Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Fakultas ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakultas ekonomi. Tampilkan semua postingan

17/01/15

“Internal COSO Framework : The COSO Standard”





Definisi Pengendalian Internal

1.  Mulyadi :Sistem Pengendalian Internal Meliputi struktur Organisasi, metode, dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.
2.  COSO (The Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission) : Pengendalian Internal adalah Sebuah proses yang dihasilkan oleh Dewan Direktur, Manajemen, dan Personel Lainnya, yang didesain untuk memberikan jaminan yang masuk akal yang memperhatikan tercapainya tujuan-tujuan dengan kategori sebagai berikut :
·   Efektif dan efisisiensinya operasi
·   Keandalan (Reliabillity) pelaporan keuangan
·   Kepatuhanterhadap hukum dan aturan yang berlaku

Elemen-Elemen Pengendalian Internal 
  • Mulyadi :
·         Struktur Organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas.
·   Sistem Wewenang dan prosedur pencatatan, yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya.
·         Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi.
·         Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.  
  •   COSO :
Pengendalian internal terdiri dari 5 (lima) komponen yang saling berhubungan. Komponen ini didapat dari cara manajemen menjalankan bisnisnya, dan terintegrasi dengan proses manajemen. Walaupun komponen-komponen tersebut dapat diterapkan kepada semua entitas, perusahaan yang kecil dan menengah dapat menerapkannya berbeda dengan perusahaan besar.
5 (lima) komponen Pengendalian internal tersebut adalah :
1.      Control Environment
2.      Risk Assesment
3.      Control Activities
4.      Information and Communication
5.      Monitoring
Siapa yang Bertanggung Jawab Terhadap Pengendalian Internal
1.      Mulyadi :
Dalam buku tulisan Mulyadi, yang harus bertanggung jawab dalam pengendalian internal adalah manajemen puncak yang terdiri dari seluruh dewan direksi. Tidak hanya direktur keuangan saja yang bertanggung jawab atas pengendalian internal , tetapi seluruh jajaran direksi bertanggung jawab atas pengendalian internal.
Manajemen puncak bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pengoperasian pengendalian internal karena mereka bertanggung jawab atas pengelolaan dana yang dipercayakan oleh pemilik perusahaan.
2.     COSO :
Menurut COSO, semua orang dalam organisasi yaitu Manajemen, Dewan direksi, Komite Audit, dan Personel lainnya bertanggung jawab terhadap pengendalian internal, karena semua orang dalam organisasi memiliki peran dalam pengendalian internal, sehingga pengendalian internal tidak dapat berjalan dengan baik apabila ada salah satu anggota yang tidak menjalankan perannya dalam pengendalian internal.
Menurut COSO, pihak-pihak luar seringkali memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan perusahaan, seperti Auditor eksternal, Badan Regulasi dan legislatif, customer, analis keuangan, dan media massa. Namun demikian pihak ketiga tersebut tidak bertanggung jawab terhadap pengendalian internal karena mereka bukan bagian dari organisasi maupun bukan bagian dari sistem pengendalian internal.




01/12/14

LAPORAN RENCANA KEGIATAN (LRK) INDIVIDU PROGRAM KKN FAKULTAS EKONOMI



LAPORAN RENCANA KEGIATAN
(Individu)

KULIAH KERJA NYATA TIM II
UNIVERSITAS DIPONEGORO
TAHUN : 2014


SUB UNIT                   : Pengelompokan Kegiatan
UNIT                            : Desa
KECAMATAN             : Bulu
KABUPATEN              : Temanggung
DESA                           : Pengilon
PROVINSI                   : Jawa Tengah


Disusun oleh :
Nama Mahasiswa         : Wimala Nisitasari
Nomor Mahasiswa       : 12030111140262



BIDANG PENGELOLAAN KKN
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG



TABEL 1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN
No.
Permasalahan*
Lokasi
Sumber (P/M/D)**
1.
Masih sedikit warga desa yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
Desa Pengilon
P
2.
Kurangnya pemahaman mengenai manfaat pengelolaan keuangan keluarga
Desa Pengilon
M
3.
Kurangnya pemahaman masyarakat tentang kewirausahaan
Desa Pengilon
P
4.
Kurangnya pemahaman mengenai pentingnya “Aku Cinta Rupiah” pada anak SD
Desa Pengilon
D
5
Kurangnya pengetahuan tentang mata uang asing untuk anak SD
Desa Pengilon
D
6
Kurangnya pengetahuan tentang anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) bagi anak SD
Desa Pengilon
D
7
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menabung di perbankan
Desa Pengilon
P
8

Kurangnya pemahaman mengenai investasi di pasar modal


Desa Pengilon

P
9

Gerakan menabung sejak dini tidak ada peningkatan


 Desa Pengilon

D

* Tuliskan semua permasalahan yang ditemukan selama sosialisasi
     ** P =Perangkat desa, M=Masyarakat, D= Dinas Instansi Vertikal/Stakeholder

TABEL 2. PRIORITAS PERMASALAHAN
No.
Permasalahan
Alasan Pemilihan
1.
Kurangnya pemahaman mengenai manfaat pengelolaan keuangan keluarga
Masyarakat desa (khususnya Ibu-ibu desa) selama ini tidak pernah mencatat keuangan keluarga. Padahal perencanaan keuangan keluarga sangat penting untuk mengetahui bagaimana menjaga agar aset yang kita miliki dapat terdistribusi dengan baik sesuai kebutuhan dan keinginan kita.
2.
Kurangnya pemahaman mengenai pentingnya “Aku Cinta Rupiah” pada anak SD
Masyarakat pada masa sekarang lebih bangga memiliki uang dollar dibandingkan memiliki uang dalam bentuk rupiah. Hal ini mengakibatkan permintaan terhadap dollar makin tinggi sedangkan permintaan terhadap rupiah menjadi rendah. Jika tidak ada rasa cinta terhadap rupiah, lama kelamaan rupiah akan melemah, sehingga penanaman nilai “Aku Cinta Rupiah” harus diajarkan kepada anak sedini mungkin.
3.
Kurangnya pengetahuan tentang mata uang asing untuk anak SD
Pada masa globalisasi seperti sekarang ini, transaksi bisnis menggunakan mata uang asing bukan hal yang aneh, sehingga anak harus diberi pengetahuan mengenai mata uang asing sejak dini.
4.
Kurangnya pengetahuan tentang anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) bagi anak SD
Korupsi di Indonesia sudah merajalela. Berdasarkan data Transparency International (TI) pada tahun 2013, Indonesia menduduki peringkat 64 negara paling korup di dunia. Oleh sebab itu, penanaman rasa anti korupsi harus diajarkan ke sekolah-sekolah, sehingga pada saat anak-anak tersebut telah menjadi dewasa mereka dapat secara tegas berkata “tidak” terhadap korupsi.


TABEL 3. RENCANA PROGRAM KKN PPM
No
Nama Program
Bahan
Volume
Sumber Dana
1.
Sosialisasi manfaat perencanaan dan pengelolaan keuangan keluarga
1 buah laptop
1 buah LCD
1 buah rol kabel
1 buah speaker
50 ekslempar materi
50 buah buku tulis
2 hari ( 1 hari @ 60 menit)
Swadaya Mahasiswa
2.
Sosialisasi mengenai pentingnya rasa “Aku Cinta Rupiah”
1 buah laptop
1 buah LCD
1 buah rol kabel
1 buah speaker
Berbagai jenis uang rupiah
25 ekslempar materi
2 hari (90 menit)
Swadaya Mahasiswa
3.
Sosialisasi pengenalan mata uang asing sejak dini
1 buah laptop
1 buah LCD
1 buah rol kabel
1 buah speaker
15 ekslempar materi
2 hari ( 1 hari @ 90 menit)
Swadaya Mahasiswa
4.
Pendidikan anti korupsi (Katakan Tidak Pada Korupsi!)
1 buah laptop
1 buah LCD
1 buah rol kabel
1 buah speaker
20 ekslempar materi

3 hari ( 1 hari @ 60 menit)
Swadaya Mahasiswa





















TABEL 4. REKAPITULASI RENCANA ANGGARAN BIAYA PROGRAM KKN
No
Nama Program
Anggaran Dana
1
Sosialisasi manfaat perencanaan dan pengelolaan keuangan keluarga
Rp. 100.000
2
Sosialisasi mengenai pentingnya rasa “Aku Cinta Rupiah”
Rp. 50.000
3
Sosialisasi pengenalan mata uang asing sejak dini
Rp. 50.000
4
Pendidikan anti korupsi (Katakan Tidak Pada Korupsi!)
Rp. 50.000